Teknik Sampling, Koleksi, dan Indentifkasi Serangga Panduan Praktis untuk Sampling, Koleksi, Preservasi, dan Identifkasi Serangga

 

Serangga merupakan kelompok organisme dengan tingkat keanekaragaman tertinggi di bumi serta memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai ekosistem. Di satu sisi, serangga berperan sebagai penyerbuk, dekomposer, musuh alami, dan indikator kualitas lingkungan. Di sisi lain, beberapa spesies merupakan hama penting yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi pada sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Oleh karena itu, kemampuan melakukan sampling, koleksi, preservasi, dan identifikasi serangga secara benar merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa maupun peneliti di bidang ilmu serangga. Buku ini disusun secara sistematis mulai dari konsep dasar dan prinsip-prinsip pengambilan sampel serangga, berbagai metode sampling untuk beragam habitat dan kelompok serangga, teknik koleksi di lapangan, penanganan serta preservasi spesimen, hingga pengelolaan koleksi ilmiah dan identifikasi berdasarkan karakter morfologi. Selain membahas metode konvensional yang telah lama digunakan dalam penelitian entomologi, buku ini juga
memperkenalkan perkembangan berbagai teknik modern yang mendukung kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati dan penelitian biodiversitas.

LOGIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: Mengintegrasikan Nalar Kritis dalam Pembelajaran Iman dan Amal

 

Kita sedang hidup di era di mana informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan otak manusia untuk menyaring, mencerna, dan merenungkannya. Setiap detik, miliaran data berkelindan di ruang digital, membentuk persepsi, mengikis keyakinan lama, dan menawarkan kebenaran-kebenaran baru yang sering kali semu. Dalam pusaran arus informasi yang tak terbendung ini, manusia modern kerap kali merasa terombang-ambing di tengah samudra ketidakpastian eksistensial.  Bagi generasi muda hari ini, agama sering kali hadirdalam dua wajah ekstrem yang sama-sam a membingungkan dan menjauhkan mereka dari substansi spiritualitas. Di satu sisi, mereka mendapati agama tampil sebagai rangkaian ritual mekanis yang kering, sebuah rutinitas tanpa jiwa yang wajib digugurkan tanpa menyisakan dampak transformatif pada perilaku sosial. Di sisi lain, mereka dihadapkan pada dogma keras yang kaku, yang menuntut kepatuhan buta tanpa ruang sedikit pun untuk bertanya atau berdiskusi. 

RESPONS FISIOLOGI TANAMAN KEDELAI PADA FASE PERKECAMBAHAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN

 


Kedelai merupakan komoditas pangan paling strategis di dunia yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap ketahanan pangan global dan agroindustri. Memiliki kandungan protein tertinggi di antara tanaman legum lainnya (35–40%), kedelai menjadi sumber protein dan lemak nabati utama bagi masyarakat. Namun, produktivitasnya secara global maupun domestik terus menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim, khususnya peningkatan frekuensi dan intensitas kekeringan. Lebih dari 60% lahan pertanaman legum dunia berada di kawasan yang rentan terhadap defisit air, yang dapat menyebabkan penurunan hasil panen ratarata sebesar 40–70%. Dalam siklus hidup kedelai, fase perkecambahan diidentifikasi sebagai salah satu periode paling kritis dan sensitif terhadap cekaman air. Kegagalan pada tahap awal ini tidak hanyamenghambat proses imbibisi dan aktivasi enzim, tetapi juga berdampak langsung pada pengurangan populasi tanaman di lapangan yang berujung pada kerugian total hasil panen. Buku ini menyajikan pembahasan menyeluruh yang mengulas posisi kedelai sebagai tanaman legum penting, rincian struktur dan karakteristik biji kedelai, mekanisme adaptasi terhadap cekaman kekeringan, dan fisiologi perkecambahan benih kedelai serta responsnya terhadap defisit air, yang diperkuat dengan metodologi simulasi cekaman kekeringan dalam studi fisiologi tanaman, tinjauan kajian molekuler respons tanaman, serta penerapan berbagai jenis marka molekuler untuk deteksi toleransi kekeringan pada fase perkecambahan.

FILSAFAT PENDIDIKAN

 


Filsafat dibagi menjadi dua hal yakni filsafat secara etimologis dan terminologis, secara etimologis berasal dari Bahasa Yunani yakni terdiri dari kata ‘Philosophia” dan diartikan sebagai “cinta kebijaksanaan”. Pada istilah Philosophia tersebut memiliki kata lain yakni “Philen” yang berarti citana atau mencintai, kata shopos yang berarti kebijaksanaan. Sedangkan dalam Bahasa Arab disebut “falsafah”, yang biasa diartikan sebagai sebuah “cinta kearifan”. Seorang yang mencari kebijaksanaan atau cinta akan pengetahuan disebut dengan filsuf atau filosof. Menurut Philosophos (ahli filsafat), harus mempunyai pengetahuan luas sebagai kecintaannya akan kebenaran dan mulai benar-benar jelas digunakan pada masa kaum sophis dan socrates yang memberi arti philosophein sebagai penguasaan secara sistematis terhadap pengetahuan teoretis. Philosopia adalah hasil dari perbuatan yang disebut Philosophein, sedangakan philosophos adalah orang yang melakukan philosophien. Dari kata philosophia itulah timbul kata-kata philosophie (Belanda, Jerman, Perancis), philosophy (Inggris). Dalam bahasa Indonesia disebut falsafat (Soerjabrata 1970 dalam Bakhtiar 2011).

PARASITOLOGI EPIDEMIOLOGI DALAM PENGENDALIAN INFEKSI PARASIT

 


Hingga saat ini, penyakit akibat infeksi parasit masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat global, khususnya di negara-negara berkembang yang terletak di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Infeksi ini dapat dipicu oleh berbagai agen biologis, mulai dari protozoa, helminth (cacing), hingga arthropoda. beberapa penyakit parasit yang masih menunjukkan angka kejadian (prevalensi) yang tinggi di tingkat dunia antara lain malaria, infeksi Soil Transmitted Helminth (STH), filariasis, toksoplasmosis, serta infeksi protozoa usus. Berdasarkan data global, diperkirakan lebih dari satu miliar orang di bumi mengidap satu atau lebih jenis infeksi parasit, baik dari kelompok protozoa maupun cacing. Dalam jangka panjang, kondisi ini membawa konsekuensi negatif yang signifikan terhadap penurunan status nutrisi, produktivitas kerja, fungsi kognitif, serta kualitas hidup masyarakat yang terdampak (Badri et al., 2025; Kaminsky & Mäser, 2025; World Health Organization, 2020). Helminthiasis (infeksi cacing) menjadi salah satu jenis infeksi parasit dengan sebaran kasus paling luas di dunia, di mana Ascariasis (infeksi cacing gelang) dan infeksi cacing tambang (hookworm) menempati urutan tertinggi. Di ranah global, prevalensi infeksi STH pada anak-anak usia sekolah menyentuh angka sekitar 20,6%, dengan distribusi tingkat penularan yang sangat bervariasi antar-wilayah. Manifestasi klinis dari infeksi STH ini berdampak buruk terhadap status nutrisi, menghambat
pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, serta menurunkan produktivitas penderitanya (Badri et al., 2025; Buchala et al., 2022; World Health Organization, 2017).

STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN & DIVERSIFIKASI PANGAN

 



Keberhasilan pelaksanaan program-program diversifikasi dalam merubah kebiasaan makan masyarakat akan sangat tergantung dari bagaimana mengkomunikasikan programprogram tersebut dengan strategi komunikasi yang tepat. Strategi komunikasi dapat berperan untuk mengubah pesan yang sudah dirancang dan disampaikan dengan jelas dan terarah akan memudahkan pemahaman masyarakat untuk mengubah sikap dan perilaku ke arah yang diharapkan. Strategi komunikasi pada hakikatnya mencapai tujuan tersebut, strategi tidak hanya arah saja, melainkan juga harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya. Strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk Dalam era globalisasi saat ini, tantangan dalam ketahanan pangan menjadi isu yang semakin mendesak untuk diatasi, terutama di wilayah pedesaan seperti Lampung Selatan. Diversifikasi pangan muncul sebagai solusi strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan, memperkaya pola konsumsi, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Buku ini memberikan panduan praktis dan teoritis dalam mengimplementasikan program diversifikasi  pangan melalui strategi komunikasi yang efektif.

PEMBAHARUAN HUKUM PROFESI ADVOKAT: INTEGRASI SISTEM PERADILAN ETIK ORGANISASI ADVOKAT DI INDONESIA

 

Buku ini menyoroti urgensi pembaharuan hukum yang menyentuh sistem peradilan etik organisasi advokat. Saat ini, keberagaman organisasi advokat di Indonesia seringkali menimbulkan disparitas dalam penegakan kode etik. Hal ini berpotensi mengurangi kepercayaan publik terhadap profesi advokat secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem yang terintegrasi, transparan, dan akuntabel untuk memastikan bahwa setiap advokat menjalankan profesinya dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi. Penulisan buku ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada para akademisi, praktisi hukum, dan berbagai pihak yang telah memberikan masukan, data, dan inspirasi. Semoga buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi mahasiswa hukum, akademisi, advokat, maupun masyarakat umum yang tertarik untuk memahami lebih dalam mengenai pembaharuan hukum terkait profesi advokat.