Buku ini lahir dari sebuah kegelisahan akademis yang mendalam terhadap fenomena keberagamaan kita hari ini, khususnya dalam menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan yang sering kali terjebak dalam paradoks. Penulis mengamati adanya kontradiksi yang tajam antara euforia ritual yang megah dengan kondisi karakter kolektif bangsa yang cenderung stagnan, atau bahkan dalam beberapa aspek, mengalami kemunduran moral. Setiap tahun, kita menyaksikan gelombang spiritualitas massal yang memenuhi ruang publik, namun pada saat yang sama, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai masih tingginya angka korupsi dan krisis integritas. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: mengapa ibadah yang dilakukan oleh jutaan orang secara serentak belum mampu menjadi kekuatan transformatif yang nyata bagi peradaban kita? Kegelisahan ini kian menguat ketika penulis melihat bahwa pendidikan agama sering kali terlalu menitikberatkan pada aspek formalitaslegalistik dan mengabaikan kedalaman substansi. Umat didorong untuk memenuhi syarat dan rukun puasa agar sah secara fikih, namun jarang sekali diajak untuk membedah "jiwa" dan tujuan hakiki dari ibadah tersebut. Akibatnya, puasa dipahami hanya sebagai rutinitas tahunan untuk menunda lapar, sebuah kewajiban yang harus segera "diselesaikan" demi menggugurkan beban dosa semata.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق